Jan Koum, Penemu WhatsApp Ternyata Mantan Tukang Sapu

Tahukah Anda, ternyata penemu aplikasi WhatsApp yang Anda gunakan adalah seorang tukang sapu ? Sebelum menjadi Penemu WhatsApp Jan Koum harus mengalami kisah biografi yang amat sulit dalam menempuh perjalanan hidupnya.

Berbekal cita-cita meraih penghidupan yang lebih layak, Jan Koum bersama ibunya memutuskan untuk menjadi imigran dari Kiev, Ukraina menuju Mountain View, Amerika Serikat. Sedangkan Ayahnya yang bekerja di sektor konstruksi ini memilih untuk tetap tinggal di Ukraina.

Jan Koum Penemu WhatsApp

Pada tahun 1992, Ia tiba di AS dan tinggal di suatu apartemen kecil yang hanya memiliki 2 kamar tidur hasil bantuan pemerintah setempat. Dan karena tidak memiliki uang maka Ia harus mengandalkan bantuan pemerintah setempat dengan mengantri makanan sambil membawa kupon.

Kemudian Koum bekerja sebagai seorang tukang sapu di sebuah toko agar dapat menafkahi hidup bersama Ibunya.

Saat bersekolah Ia harus bangun lebih pagi untuk mengejar bus, Sedangkan keluarga lain rata-rata telah menggunakan mobil untuk berangkat ke sekolah.

Jan Koum sempat masuk kuliah di bidang ilmu komputer dan matematika, namun tidak sampai selesai karena memiliki prestasi yang tidak baik. Merasa bosan akan kuliahnya maka dia memutuskan untuk drop out dan memilih untuk belajar programming secara autodidak.  Sambil belajar ilmu programming, Ia pun mulai bekerja di supermarket di bagian pembungkus barang belanjaan. Setelah beberapa lama ia pindah bekerja di toko elekronik, Kemudian pindah lagi ke internet provider hingga perusahaan audit.

baca juga : Kisah Zhang Xin Seorang Buruh Pabrik yang Sukses

Berbekal keahlian sebagai programmer maka Jan Koum pun mencoba untuk melamar ke perusahaan Yahoo. Jan diterima dan sempat bekerja hampir selama 10 tahun di Yahoo. Disinilah Ia menjalin persahabatan dengan Brian Actor yang juga banyak membantu Jan setelah sang ibu meninggal pada tahun 2000.

Pada tahun 2009, Jan Koum bersama Brian Acton memutuskan untuk resign dari Yahoo karena merasa tidak nyaman bekerja mengurus iklan yang bertebaran. Jan memang tidak suka dengan iklan, Dimana hal ini sudah tertanam pada dirinya ketika sedang berada di negeri Rusia yang tidak mengenal akan iklan apapun.

“Selalu ada perdebatan dalam menempatkan posisi iklan dan logo di laman situs. Apa urusan pengguna dengan iklan-iklan itu ? Iklan bukanlah satu-satunya solusi monetisasi. Sebuah layanan harus benar-benar berupa layanan murni, pelanggan adalah pengguna”, demikian papar Jan Koum.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Acton, Akhirnya pada tanggal 31 Oktober 2007 keduanya memutuskan untuk keluar dari Yahoo. Dan secara kebetulan keduanya juga melamar ke Facebook yang saat itu tengah menanjak tingkat popularitasnya. Tetapi kedua-duanya mendapat penolakan.

Jan Koum Mendirikan WhatsApp

Hingga pada suatu saat ketika sedang membeli sebuah iPhone, tahun 2009, Koum mendapatkan ide untuk membuat aplikasi  yang dapat menampilkan status di kontak ponsel. Status yang terpikir adalah ponsel akan menampilkan pemberitahuan kondisi baterai yang hampir habis atau kabar seseorang.

Dari sanalah muncul nama WhatsApp yang berasal dari kata “what’s up” biasa digunakan untuk menanyakan kabar seseorang. Dan tepat pada tanggal 24 Februari 2009, Dengan dibantu oleh Alex Fishman, Seorang teman asal Rusia yang dekat dengan komunitas Rusia di kota San Jose, Jan Koum mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California, AS.

Versi pertama pun diliris, Kebanyakan penggunanya adalah teman-teman Jan Koum dari kalangan Rusia untuk melakukan update status sederhana di ponsel.

Seiring berjalannya waktu, Fungsi aplikasi ditingkatkan menjadi aplikasi pesan instan yang dapat digunakan untuk menanyakan kabar masing-masing pengguna. Di sinilah Koum tersadar bahwa dia secara tidak sengaja telah menciptakan layanan untuk mengirim pesan. Meskipun saat itu telah ada layanan pesan instan dari BlackBerry Messenger, Tetapi aplikasi WhatsApp yang Ia buat memberikan keunikan tersendiri.

Saat WhatsApp versi 2.0 yang berbalut komponen messanger diluncurkan, Pengguna aktifnya langsung melonjak menjadi sekitar 250.000 pengguna. Terkendala masalah biaya, Jan pun mencoba meminta temannya, Acton untuk bergabung dan mencarikan bantuan dana dari teman-temannya semasa bekerja di Yahoo.

Layanan dari WhatsApp ini ternyata terinspirasi dari pengalaman hidup saat Jan Koum masih berusia dini. Di negeri kelahirannya, percakapan antar warga selalu dimata-matai oleh pihak pemerintah. Setiap lalu lalang percakapan antar warga kemungkinan besar akan mengalami penyadapan. Untuk mencegah hal semacam itu terjadi, Maka pihak WhatsApp tidak mengumpulkan data pribadi pengguna.

Prinsip Utama WhatsApp

Bahkan iklan yang sering tampak berkeliaran di media Facebook dan Yahoo tidak akan ada di aplikasi yang satu ini. Karena Koum berpendapat bahwa ” tidak ada yang lebih personal dari sebuah komunikasi antara teman atau keluarga, Dan melakukan interupsi saat pembicaraan dengan tampilnya iklan bukanlah hal yang tepat”. Untuk menjaga konsistensi semacam itu maka dalam aplikasi WhatsApp tidak akan ditemukan iklan apapun selain pengiriman pesan itu sendiri.

Konsistensi ini dapat terlihat dengan semboyan di ruang kantor Jan Koum yang ditulis oleh Acton yaitu ” Tanpa Iklan !  Tanpa Permainan !  Tanpa Gimmick ! ”

Karena penggunanya kian melonjak terus, Facebook yang dahulu menolak Jan dan Acton pun melirik WhatsApp. Dan akhirnya WhatsApp diakusisi senilai 19 Miliar US$ (sekitar Rp. 223 Triliun). Setelah resmi dibeli oleh Facebook, Jan Koum mengunjungi tempat dimana setiap pagi harus antri untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah.

Share