6 Candi Peninggalan Agama Budha di Indonesia

Candi Peninggalan Agama Budha ~ Indonesia sejak dahulu menjadi tujuan persinggahan para pedagang – pedagang dari berbagai agama. Banyak bukti sejarah yang dapat kita saksikan hingga saat ini. Salah satunya ialah Candi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dari sekian banyak candi, Kita mengenal 6 candi peninggalan agama Budha yang patut kita ketahui sejarahnya, berikut ini penjelasannya :

Candi Peninggalan Agama Budha

1. Candi Borobudur

candi borobudur salah satu candi peninggalan agama budha

 

Candi Borobudur adalah sebuah candi Budha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Berada kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan Raja Syailendra.

Candi Borobudur terdiri atas 6 tingkat punden berundak yang berbentuk bujur sangkar, Kemudian ditambahkan lagi tiga tingkat yang melingkari 1 stupa utama di puncaknya. Setiap lingkaran terdapat beberapa stupa yang mengitarinya.

2. Candi Mendut

 

candi mendut-candi peninggalan agama budha

Candi Mendut termasuk candi peninggalan agama Budha yang letaknya hanya beberapa kilometer dari Candi Borobudur. Lokasinya berada di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra.

Dalam prasasti Karangtengah 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama Veluvana yang artinya ‘Hutan Bambu”. Nama ini kemudian dikaitkan dengan Candi Mendut oleh ahli arkeolog dari Belanda yang bernama J.G. de Casparis

Candi Mendut dihiasi dengan ukiran selang seling berupa makhluk kahyangan seperti bidadari, 2 ekor kera dan seekor burung Garuda.

3. Candi Sewu

candi sewu ~ candi peninggalan agama budha

 

Candi Sewu (candi seribu) yang secara administratif terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah adalah candi agama Budha (hanya beberapa ratus meter dari Candi Prambanan). Candi ini merupakan kompleks candi budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur  dan diperkirakan dibangun pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai Panangkaran (746 – 784).

Candi Sewu berusia lebih tua dari pada Candi Borobudur dan Prambanan. Sebenarnya candi ini terdapat 249 candi, Tetapi menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam. Candi dibuat sebagai syarat untuk bisa memperistri dewi Roro Jonggrang yang akhirnya gagal karena saat fajar mulai menyingsing jumlah candi masih kurang 1.

4. Candi Ngawen

 

Ngawen Candi Peninggalan Agama Budha yang Unik

Candi Ngawen berlatarbelakang agama Budha yang dibuktikan dengan temuan arca Dhyani budha Ratnasambhawa di candi II dan arca Dhyani Budha amithaba di Candi IV. Berdasarkan gaya arsitektur bangunannya Candi Ngawen ini diperkirakan dibangun sekitar abad IX-X Masehi.

Candi ini mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singan pada keempat sudutnya. Bentuk bangunannya yang meruncing nyaris mirip dengan bangunan candi Hindu. Tapi simbol stupa dan teras berundak-undak yang terdapat dalam candi merupakan simbol / corak dalam agama Budha.

Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Budha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.

5. Candi Lumbung

candi lumbung candi peninggalan agama budha

 

Candi Lumbung adalah candi peninggalan agama Budha yang terletak di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Candi ini berada tepat di tepi Kali Apu yang mengalir dari Gunung Merapi di lereng sisi barat.

Tidak jelas apakah nama Lumbung memang merupakan nama candi ini atau hanya berupa sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung.

Bangunan suci Budha ini merupakan gugus candi yang terdiri atas 17 bangunan dengan satu candi utama terletak di pusat kemudian di kelilingin oleh 16 candi perwara.

Candi yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di sebelah candi Bubrah. Menurut perkiraan dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.

6. Candi Muara Takus

candi peninggalan agama budha ~ muara takus

 

Candi Muara Takus adalah sebuah candi peninggalan agama Budha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar lebih kurang 128 km dari Kota Pekanbaru, Ibukota Propinsi Riau, Indonesia.

Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi bernuansa Budhistis ini merupakan bukti bahwa agama Budha pernah berkembang di kawasan ini. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan.

Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa. Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai, salah satu bangunan di kompleks Candi Muara takus, yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan). Arsitektur candi ini juga mempunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar. Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan.

Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tuo. Candi peninggalan agama Budha ini berukuran 32,80 m x 21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada. Letaknya di sebelah utara Candi Bungsu. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa, sedangkan pada bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi duduk. Bangunan ini mempunyai sisi 36 buah dan terdiri dari bagian kaki I, kaki II, tubuh dan puncak. Bagian puncaknya telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang.

Candi Tuo dibangun dari campuran batu bata yang dicetak dan batu pasir (tuff). Pemugaran Candi Tuo dilaksanakan secara bertahap akibat keterbatasan anggaran yang tersedia. Pada tahun 1990, selesai dikerjakan bagian kaki I di sisi timur. Selama tahun anggaran 1992/1993 pemugaran dilanjutkan dengan bagian sisi sebelah barat (kaki I dan II). Volume bangunan keseluruhan mencapai 2.235 m3, terdiri dari : kaki: 2.028 m3, tubuh: 150 m3, dan puncak: 57 m3. Tinggi bangunan mencapai 8,50 m.

Bangunan kedua dinamakan Candi Mahligai. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 m x 10,60 m. Tingginya sampai ke puncak 14,30 m berdiri diatas pondamen segi delapan (astakoma) dan bersisikan sebanyak 28 buah. Pada alasnya terdapat teratai berganda dan di tengahnya menjulang sebuah menara yang bentuknya mirip phallus (yoni).

Bangunan ketiga disebut Candi Palangka, yang terletak 3,85 m sebelah timur Candi Mahligai. Bangunan ini terdiri dari batu bata merah yang tidak dicetak. Candi Palangka merupakan candi yang terkecil, relung-relung penyusunan batu tidak sama dengan dinding Candi Mahligai. Dulu sebelum dipugar bagian kakinya terbenam sekitar satu meter.

Candi Palangka mulai dipugar pada tahun 1987 dan selesai pada tahun 1989. Pemugaran dilaksanakan hanya pada bagian kaki dan tubuh candi, karena bagian puncaknya yang masih ditemukan pada tahun 1860 sudah tidak ada lagi. Di bagian sebelah utara terdapat tangga yang telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui bentuk aslinya. Kaki candi berbentuk segi delapan dengan sudut banyak, berukuran panjang 6,60 m, lebar 5,85 m serta tingginya 1,45 m dari permukaan tanah dengan volume 52,9 m3.

Bangunan keempat dinamakan Candi Bungsu. Salah satu candi peninggalan agama Budha yang terletak di sebelah barat Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir (tuff) terdapat pada bagian depan, sedangkan batu bata terdapat pada bagian belakang. Pemugaran candi ini dimulai tahun 1988 dan selesai dikerjakan tahun 1990. Melalu pemugaran tersebut candi ini dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu empat persegi panjang dengan ukuran 7,50 m x 16,28 m. Bagian puncak tidak dapat dipugar, karena tidak diketahui bentuk sebenarnya. Tinggi setelah dipugar 6,20 m dari permukaan tanah, dan volume nya 365,8 m3.

Selain bangunan-bangunan tersebut di atas, di sebelah utara, atau tepat di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lobang. Tempat ini diperkirakan tempat pembakaran jenazah. Lobang yang satu untuk memasukkan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya.

Tempat pembakaran jenazah ini, termasuk dalam pemeliharaan karena berada dalam komplek percandian. Di dalam onggokan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari sungai Kampar. Di di luar kompleks Candi Muara Takus, yaitu di beberapa tempat di sekitar Desa Muarata takus, juga diketemukan beberapa bangunan yang diduga masih erat kaitannya dengan candi ini. (sumber : http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-sumatra-candi_muara_takus)

Nah, itulah 6 candi peninggalan agama budha, Semoga dapat memberikan manfaat.

 

error: Content is protected !!